Rangkasbitung – Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP Universitas Setia Budhi Rangkasbitung turut memberikan catatan akademik dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Lebak ke-197 yang jatuh pada 2 Desember 2025. Sebagai salah satu kabupaten tertua di Provinsi Banten, Lebak terus menunjukkan dinamika pembangunan yang menarik untuk dikaji dari perspektif administrasi publik dan tata kelola pemerintahan daerah.
Dosen Ilmu Administrasi Negara FISIP USBR menilai bahwa usia 197 tahun merupakan momentum penting bagi Pemerintah Kabupaten Lebak untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pembangunan, pelayanan publik, dan reformasi birokrasi. Menurut kajian akademik, terdapat beberapa perkembangan strategis yang perlu disorot.
1. Transformasi Pelayanan Publik
Dalam beberapa tahun terakhir, Lebak menunjukkan komitmen dalam penguatan kualitas pelayanan publik, antara lain melalui:
- Digitalisasi layanan administrasi kependudukan,
- Peningkatan sistem akses kesehatan berbasis aplikasi regional,
- Pengembangan Mal Pelayanan Publik (MPP) sebagai pusat integrasi layanan.
Dosen FISIP USBR menilai bahwa inovasi tersebut harus terus diperluas ke level kecamatan dan desa untuk mengurangi kesenjangan kualitas layanan.
2. Pembangunan Infrastruktur dan Aksesibilitas
Secara ilmiah, pembangunan infrastruktur berperan sebagai pendorong pertumbuhan wilayah. Penelitian dosen USBR mencatat bahwa:
- Peningkatan konektivitas jalan kabupaten mendorong mobilitas ekonomi masyarakat,
- Pengembangan kawasan strategis seperti Lebak Selatan membutuhkan dukungan tata ruang yang konsisten,
- Infrastruktur pendidikan dan kesehatan masih perlu pemerataan terutama di wilayah perdesaan.
3. Penguatan SDM dan Reformasi Birokrasi
Kajian akademik Prodi Ilmu Administrasi Negara menunjukkan bahwa kualitas SDM birokrasi masih menjadi tantangan utama. Dalam refleksi Hari Jadi ke-197 ini, dosen USBR menekankan pentingnya:
- Pelatihan berkelanjutan berbasis kompetensi,
- Peningkatan budaya kerja ASN,
- Mendorong implementasi e-government secara lebih komprehensif.
4. Ketahanan Sosial dan Ekonomi Lokal
Dari perspektif pembangunan daerah, Kabupaten Lebak menghadapi dinamika ketahanan sosial–ekonomi, termasuk:
- Tantangan kemiskinan yang masih berada di atas rata-rata provinsi,
- Penguatan ekonomi lokal berbasis UMKM dan pariwisata budaya,
- Perlunya kebijakan afirmatif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat.
Dosen USBR menegaskan bahwa model pembangunan inklusif adalah keharusan agar seluruh lapisan masyarakat memperoleh manfaat pembangunan.
5. Catatan Akademik untuk Arah Pembangunan ke Depan
Dalam usia 197 tahun, posisi Kabupaten Lebak sebagai wilayah dengan karakter budaya kuat, potensi sumber daya alam, dan dinamika sosial yang kompleks memberikan ruang luas untuk pengembangan model tata kelola pemerintahan daerah berbasis:
- Good Governance,
- Pemberdayaan masyarakat desa,
- Pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
Prodi Ilmu Administrasi Negara FISIP USBR berkomitmen untuk terus memberikan kontribusi akademik melalui penelitian, kajian kebijakan, dan pengabdian masyarakat.
Penutup
Peringatan Hari Jadi Kabupaten Lebak ke-197 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum ilmiah untuk mengevaluasi capaian pembangunan serta memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia akademik, dan masyarakat. Dengan memperkuat tata kelola dan kualitas pelayanan publik, Kabupaten Lebak diharapkan terus berkembang sebagai daerah yang maju, berdaya saing, dan berkeadilan.

